Jumat, 23 April 2010

IPI Uyuk

1. Sistem pendidikan Islam dan Komponen-komponennya.

Roger A Kanfman mendefinisikan sistem, yaitu suatu totalitas yang tersusun dari bagian-bagian yang berkerja sendiri-sendiri (independent) atau bekerja sama-sama untuk mencapai hasil atau tujuan yang diinginkan berdasarkan kebutuhan.

KOMPONEN-KOMPONEN PEMBELAJARAN

Guru
Program/
Tugas

Metode/
Teknik/Media

Bahan/
Sumber



INSTRUMENTAL INPUT






Raw Input/Siswa
Proses
Pembelajaran
( PBM )

Output/Outcome



ENVIRONMENTAL INPUT





Fisik Kultur Sosial


Dari sekmen tersebut terlihat ada empat komponen utama kegiatan pembelajaran yang mempengruhi hasil pembelajaran:
1. hasil belajar (Expecteed Output)
2. Karaktristik Siswa (Raw Input)
3. Sasaran Perasarana (Instrumental Input)
4. Lingkungan (Enverionmental Input)

Keempat komponen penbelajaran ini, satu sama lain saling mempengruhi terhadap efektifitas kegiatan pembelajaran, demikian pula terhadap perolehan hasil belajar siswa.Oleh karena itu, guru sebagai perancang kegiatan belajar siswa dituntut mampu memberdayakan secara efektif. Sehingga siswa dapat merealisasikan dalam kehidupannya demi untuk mencapai kehidupan yang indah di dunia dan di akhirat.



Firman Allah SWT

                        

1.Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2.Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4.Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam 5.Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-Alaq : 1-5)

.Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Kalam Mulia, 2005
Life sekil Implementasi dalam KTSP, 2007. Bandung CV, Mubhani Sejahtera.

2. Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 menyebutkan bahwa jabatan guru adalah jabatan profesional yang kopeten dibidangnya.

a. Kompetensi yang harus dimiliki oieh guru meliputi : Kompetensi Pedagogik, Kompetensi kepribadian, Kopetensi Sosial dan Kopetensi Profesionsl.

Kompetensi Pedagogik adalah kemampuahan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik khususnya dalam pengembangan kurikulum.

Kompetensi Kepribadian adalah kemampuhan guru dalam menunjukan kepribadian yang mantap, dewasa, arif, berwibawa, patut menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kepribadian yang mantap dapat diindikasikan dari konsistensi perkataan dan kesesuaian tindakannya dengan norma agama, hukum, dan norma sosial.
Kedewasaan kepribadian ditunjukkan dari kemandirian dalam bertindak secara bertanggung jawab sebagai pendidik serta memiliki etos kerja sebagai guru. Kepribadian yang arif ditunjukkan dari keterbukaan guru dalam merpikir dan bertindak dengan mengedepankan kemaslahatannya bagi peserta didik, sekolah, dan masyarakat. Kewibawaan diindikasikan melalui perilakunya yang disegani yang berpengaruh positif terhadap peserta didik. Akhlak mulia ditunjukkan dari kesesuaian tindakannya dengan norma religius (iman dan taqwa), sehingga patut diteladani oleh peserta didik.

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara harmonis dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Indikasinya, guru mampu berkomunikasi dan bergaul secara harmonis peserta didik, sesama pendidik, dan dengan tenaga kependidikan, serta dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

Kompetensi profesional adalah Kompetensi yang tercermin dari penguasaan substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi yang didukung penguasaan tiga kompetensi tersebut secara integratif. Kompetensi pedagogik, kepribadian, dan sosial perlu dimiliki oleh setiap guru. Selain itu, dalam konteks ini guru perlu juga menguasai prosedur penelitian (minimal penelitian tindakan kelas), menulis karya ilmiah dan mempublikasikannya, dan melakukan kajian kritis untuk menguasai materi dalam bidang studi tertentu serta meningkatkan kualitas pembelajarannya secara berkelanjutan. Dengan dimilikinya profesionalisme guru pendidikan untuk anak bangsa dapat dilakukan secara lebih bertanggung jawab.

b. Agama Islam sangat menghargai orang-orang yang berilmu pengetahuan diantaranya guru dan ulama sehingga hanya mereka sajalah yang pantas mencapai tarap ketinggian dan keutuhan hidup.

Firman Allah SWT.

           

Artinya:
”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”(Q.S. Al-Mujadalah:11)

Sabda Nabi Swa.

Artinya: ”Barang siapa yang ditanyakan tentang ilmu kemudian menyimpan ilmunya (tidak mau mengajarkan) maka Allah akan mengekang dia dengan kekangan api neraka pada hari kiamat”.

Untuk menjadi seorang guru yang dapat mempengruhi anak didiknya kearah kebahagiaan dunia dan akhirat.Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi diantaranya menurut Zakiyah Daradjat (2006:40) yaitu :
1. Takwa kepada Allah sebagai syarat menjadi guru.
2. Beriman menjadi syarat guru.
3. Sehat jasmani sebagai syarat menjadi guru.
4. Berkelakuan baik sebagai syrat menjadi guru
5. Menurut H. Mubangid bahwa syarat menjadi pendidik / gur yaitu :
6. Dia harus orang yang beragama.
7. Mampu bertanggung jawab atas kesejahteraan agama.
8. Dia tidak kalah dengan sekolah umum lainnya dalam membentuk warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab atas kesejahtraan bangsa dan tanah air.
9. Dia harus memiliki perasaan panggilan murni (roeping).




3. Sinergik ketiga lembaga dalam pembinaan akhlak.

Secara etimologis, lembaga adalah asal sesuatu, acuan, sesuatu yang memberi bentuk pada yang lain, badan atau organisasi yang bertujuan mengadakan suatu peneliyian keilmuan atau melakukansesuatu usaha. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa lembaga mengandung dua arti, yaitu: (1) pengertian secara fisik, materil, kongkrit, dan (2) pengertian non-fisik, non-materil.dan abstrak.
Tanggung jawab kependidikan merupakan suatu tugas wajib yang harus dilaksanakan, karena tugas ini satu dari beberapa instrumen masyarakat dan bangsa dalam upaya pengembangan manusia sebagai kholipah di bumi. Tanggung jawab ini dapat dilaksanakan secara individu dan kolektif. Secara individu dilaksanakan oleh orang tua dan kolektif kerja sama seluruh anggota keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Menurut al-Qabisy, pemerintahan dan orang tuabertanggung jawab terhadap pendidikan anak baik berupa bimbingan, pengajaran secara menyeluruh. Konsep tanggung jawab pedidikan yang dikemukakan al-Qabisy ini berimplikasi secara tidak langsung dalam melahirkan jenis-jenis lembaga pendidikan sesuai dengan penanggung jawabnya. Jika penanggung jawabnya adalah pemerintah maka jenis lembagapendidikan yang dilahirkan ini ada beberap macam, seperti sekolah lembaga pemasyarakatan dan sebagainya.Jika penanggung jawabnya adalah masyarakat, lembaga pendidikan yang dimunculkan seperti panti asuhan, panti jompo dan sebaainya.
Lembaga Pendidikan In-Formal (keluarga)
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat adalah persekutuan antara sekelompok orag yang mempunyai pola-pola kepentingan masing-masing dalam mendidik anak yang belum ada dilingkungannya.Kegiatan pendidikan dalam lembaga ini tanpa ada suatu organisasi yang ketat. Tanpa ada program waktu dan evaluasi.
Dalam Islam keluarga dikenal dengan istilah usrah, dan nasb. Sejalan dengan pengertian di atas , keluarga juga dapat diperoleh lewat persusunan dan pemerdekaan. Pentingnya serta keutaman keluarga sebagai lembaga pendidikan Islam disyariatkan dalam al-Qur’an:

      ..........   

Artinya :

”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (Q.S. al-Tahrim : 6)

Keluarga merupakan orang pertama, dimana sifat kepribadian akan tumbuh dan terbentuk. Seorang akan menjadi warga yang baik, bergantung pada sifatnya yang tumbuh dalam kehidupan keluarga, dimana anak dibesarkan.
Lembaga Pendidikan Formal (Sekolah/Madrasah)
Abu Ahmad dan Nur Uhbiyato memberi pengertin tentang lembaga pendidikan sekolah, yaitu bila dalam pendidikan tersebut diadakan ditempat tertentu, teratur, sistimatis, mempunyai perpanjangan dan dalam kurun tertetu, berlangsung dari mulai pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, dan dilaksanakan berdasarkan aturan resmi yang telah ditetapkan.
Handari Nawawi mengelompokan lembangga pendidikan sekolah kepada lembaga pendidikan yang kegiatan pendidikannya diselenggarakan secara sengaja, berrencana, sistimatis dalam rangka membentuk anak dalam mengembangkan potensinya,agar mampu menjalankan tugasnya sebagai khalifah Allah di bumi.
Lembaga Pendidikan Non-Formal (masyarakat)
Lembaga pendidikan non-formal adalah lembaga pendidikan yang teratur namun tidak mengikuti pelaturan-pelaturan yang tetap dan ketat. Abu Ahmadi mengertikan lembaga non-formal kepada semua bentuk pendidikan yang disenggarakan dengan sengaja, tertib dan terrencana diluar kegiatan lembaga sekolah.
Masyarakat merupakan kelompok individu dan kelompok yang terikat oleh kesatuan bangsa, negara, kebudayaan dan agama. Setiap masyrakat, memilikiki cita-cita yang diwujudkan melalui peraturan-peraturan dan sistem kekuasaan tertentu, ”slam tidak membebaskan manusia dari tanggung jawabnya sebagai anggota masyarakat, dia merupakan bagian yang integral sehingga harus tunduk pada norma-norma yang berlaku dalam masyarakatnya. Begitu juga dengan bertanggung jawabnya dalam melaksanakantugas-tugas kependidikan.
Dari urayan di atas bahwa tiap lembaga ikut merasa bertanggung jawab atas pendidikan suatu individu maupun kelompok untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia sehingga berguna bagi keluarga, bangsa,negara dan agama.
Prof. DR. H. Ramayulis Ilmu Pemdidikan Islam.Kalam Mulia.

4. Hakikat Manusia, tujuan pendidikan dalam Islam kaitannya dengan penciptaan manusia dan upaya agar manusia dapat sesuai dengan tujuan penciptanya.

Para ahli dalam berbagai bidang memberi penafsiran tentang hakekat manusia. Sastraprateja, mengatakan bahwa manusia adalah makluk yang historis. Hakekat manusia sendiri adalah sejarah, suatu peristiwa yang bukan semata-mata datun. Hakekat manusia hanya dapat dilihat dalam perjalanan sejarah dalam sejarah bangsa manusia.
Ibn’ Arabi melukiskan hakekat manusia dengan mengatakan bahwa, tak ada makhluk Allah yang lebih bagus dari pada manusia. Allah Swt membuatnya hidup, mengetahui, berkuasa, berkehendak, berbicara mendengar,melihat, dan memutuskan, dan ini merupakan sifat-sifat rahbaniyah.
Muthada Mutahari melukiskan gambaran al- Qur’an tentang manusia sebagai berikut:
Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai satu makhluk pilihan Tuhan, sebagai khalifah-Nya di bumi,serta sebagai makhluk yang semi samawi dan semi duniawi yang dalam dirinya ditanamkan sifat mengkui Tuhan,bebas terpercaya, rasa tanggung jawab terhadap dirinya maupun alam semesta, serta karunia keunggulan terhadap alam semesta, langit dan bumi.
Tetapi dengan kedudukan yang demikian, manusia sering melupakan hakikat dirinya sebagai hamba Allah. Manusia sering bertindak sewenang-wenang, tidak mematuhi adanya aturan yang memikat dirinya, sering merasa congkak dan takabur kepada Allah SWT.
Dalam rangka menyadarkan manusia akan kedudukan sebagai hamba Allah, dalam al-Qur’an terdapat pernyataan agar manusia mau berfikir tentang asal kejadian.
Dengan demikian, manusia sadar akan ketidak mampuan dan keterbatasannya dalam mengenal dirinya sendiri, dan fenomena alam lainnya.Pada saat itulah manusia sadar akan kekurangan dan ketidak berdayaannya dan menyerahkan diri pada kemahakuasaan Allah sebagai Zat yang menguasai alam semesta. Disini manusia memiliki suatu perasaan keagamaan yang patuh kepada kekuatan superatural, yang dalam bahasa agama Islam disebut Allah SWT. Dari sinilah pula akhirnya para agamawan mendefinisikan manusia sebagai makhluk beragama. Mekipun demikian, definisi itu belum bisa mewakili pengertian hakekat manusia secara utuh. Untuk itu harus pua dilihat pengertian manusia dari segi kata yang digunakan.

Ditinjau dari segi kata (istilah) yang digunakan
Selanjutnya bagaimana hakekat manusia, untuk itu al-Qur’an memperkenalkan tiga kata (istilah) yang bisa digunakan untuk menunjukan pengertian manusia. Ketiga kata tersebut adalah: al-Basyar, al-Insan, dan al Nas. Meskipun kenyataannya menunjukan arti pada manusia, akan tetapi secara khusus memilik pengertian yang berbeda.
Dari seluruh uraian tersebut di atas kiranya dapat diperoleh gambaran yang jelas bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kelenfkapan Fisik dan psikis. Dengan kelengkapan fisik, ia dapat melaksanakan tugas-tugas yang memerlukan dukungan fisik dan dengan kelengkapan psikis ia dapat melakukan tugas-tugas yang memerlukan dukungan mental.Selanjutnya agar kedua unsur tersebut dapat berpungsi dengan baikdan produktif, maka perlu dibina dan diberikan pendidikan seimbang, harmonis dan integral.

Istilah ”tujuan” atau ”sasaran” , dalam bahasa Arab dinyatakan dengan ghayat atau andaf atau maqasid. Sedangkan dalam bahasa Inggris, istilah ”tujuan” dinyatakan dengan ”goal atau purpose atau objective atau aim. Secara umum istilah-istilah itu mengandung pengertian yang sama, yaitu perbuatan yang diarahkan kepada suatu tujuan tertentu,atau arah,maksud yang hendak dicapai melaluai upaya atau aktivitas.
Abu Ahmadi mengatakan bahwa tahap-tahap tujuan pendidikan Islam meliputi : (1) Tujuan tertinggi/terakhir, (2) tujuan umum,(3) tujuan khusus, dan (4) tujuan sementara.
1. Tujuan ini bersifat mutlak, tidak menglami perubahan dan berlaku umum, karena sesuai dengan konsep ketuhanan yang mengandung kebenaran mutlak dan universal. Tujuan tertinggi tersebut dirumuskan dalam satu istilah yang disebut ” insan kamil” (manusia paripurna).
Dalam tujuan pendidikan Islam, tujuan tertinggi atau terakhir ini pada akhirnya sesuai dengan tujuan hidup manusia, dan peranannya sebagai makhluk ciptanan Allah. Dengan demikian indikator dari insan kamil tersebut adalah:
a. Menjadi hamba Allah
Tujuan ini sejalan dengan tujuan hidup dan penciptaan manusia, yaitu semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Tujuan hidup yang dijadikan tujuan pendidikan itu diambil dari al-Qur’an.
Firman Allah SWT:
      


Artinya:

”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (Q.S. Al-Zhariat : 56)

b. Mengantarkan subjek didik menjadi Khalifah Allah Fi al-Ardh, yang mampuh memakmurkan bumi dan melestarikannya dan lebih jahu lagi, me-wujudkan rahmat bagi alam sekitarnya, sesuai dengan tujuan penciptaannya, dan sebagai konsekuensi setelah menerima Islam sebagai pedoman hidup.

Firman Allah SWT
               •       
Artinya:
”Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-An’am : 165).

c. untuk memperoleh kesejahteraan kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat, baik individu maupun masyarakat.
Firman Allah SWT.

                         •     
Artinya:
”Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S.Al- Qashash :77)

2. Tujuan Umum
Tujuan umum lebih bersifat empirik dan realistik. Tujuan mumum berfungsi sebagai arah yang taraf pencapaiannya dapat diukur karena menyangkut perubahan sikap, perilaku dan kepribadian peseriadidik.
Al-Abrasyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan lima tujuan umum bagi pendidikan Islam, yaitu:
a. Untuk pembentukan akhlak yang mulia.
b. Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat.
c. Persiapan untuk mencari rezeki dan memelihara segi mamfaat.
d. Menumbuhkan semangat ilmiah pada pelajar dan memuaskan keinginan tahu dan memungkinkan ia mengkaji ilmu demi ilmu itu sendiri.
e. Menyiapkan pelajaran dari segi profesionsl, teknikal dan pertukangan supaya dapat menguasai profesi tertentu.

3. Tujuan Khusus
Tujuan khusus adalah pengkhususan atau operasionaltujuan tertinggi/terakhir dan tujuan umum(pendidikan Islam). Tujuan umum bersifst relatif sehingga dimungkinkan untuk diadakan perubahan dimana perlu sesuai dengan tuntunan dan kebutuhan, selama berpijak pada kerangka tujuan tertnggi/terakhir dan umum itu. Pengkhususan tujuan tersebut dapat didasarkan pada:
a. Kultur dan cita-cita suatu bangsa
b. Minat. Bakat, dan kesanggupan subyek didik
c. Tuntunan situasi, kondisi pada kurun waktu tertentu.

4. Tujuan Sementara
Tujuan sementara pada umumnya merupakan tujuan-tujuan yang dikembangkan dalam rangkamenjawab segala tuntunan kehidupan. Karena itu tujuan sementara itu kondisional, tergantung pada faktor di mana peserta didik itu tinggal atau hidup. Dengan berangkat dari pertimbangan kondisi itulah pendidikan Islam bisa menyesuaikan diri untuk memenuhi prinsip dinamis dalam pendidikan dengan lingkungan yanf bercorak apapun, yang membedakan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain, yang penting orientasi dari pendidik itu tidak keluar dari nilai-nilai ideal Islam.

Prof. DR. H. Ramayulis Ilmi Pendidikan Islam , Jakarta Kalam Mulia, 2002.

5. Ketekaitan globalisasi, kurikulum pendidikan Islam, dan manusia bertaqwa.
Globalisasi berasal dari kata ”global” yang berarti meliputi seluruh dunia. Jadi globalisasi berarti peroses masuknya ruang lingkup dunia. Globalisasi adalah sebuah perubahan sosial berupa bertambahnya keterkaitan diantara elemen-elemen yang terjadi akibat perkembangan teknologoi dibidang transportasi dan komunikasi yang mempasilitasi pertukaran budaya dan ekonomi.
Menurut penulisa kopetensi kurikulum meliputi, salah satunya adanya media (sarana dan prasarana) diantaranya computer dan internet.
Beberapa contoh watak abivalensi globalisasi dalam pendidikan sekolah:
1. Globalisasi menghadirkan pesona ”kecepatan” yang akan berlawanan dengan masalah ” kedangkalan pemahaman pengetahan pada anak didik”,
2. Globalisasi nenguntungkan bagi yang berfikir dan bertindak cepat dan celakabagi orang yang berfikir dan bertindak lambat;
3. Globalisasi akan memudahkanmemudah hubungan dan mengatasi jarak wilayah (lokalitas) tetapi adanya ketidak pekaan pada akardan ciri-ciri budaya lokal; dan
4. Globalisasi akan memudahkan membuat potensi menyelesaikan masalah secara cepat pada sekala global tetapi menjadi beban keluasan lingkungan pada penyebab masalah.
Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari-hari. Jika digunakan secara sistimatisnya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan dapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan yang tidak semestinya. Misalnya untuk membuka situs-situs porno. Bukan internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk menggunakan handpone.



























































MATA KULIAH : IPI (ILMU PENDIDIKAN ISLAM)
NAMA : UYUK ISMAT ALAMSYAH
SEMESTER : IV (EMPAT)
KELAS : A